Meningkatkan Kesadaran Masyarakaat Tentang Pentingnya Kebebasan Berekspresi dalam Masyarakat Demokrasi dan Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup: Kasus di Indonesia


Meningkatkan Kesadaran Masyarakaat Tentang Pentingnya Kebebasan Berekspresi dalam Masyarakat Demokrasi dan Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup: Kasus di Indonesia
Prof. Andi Faisal Baktu MA, Ph.D
Nathalia Perdhani Soemantri, M.Si
Di resume oleh:
Ayyara Octavyani B. (7017210033)

Penelitian terdahulu tentang pengembangan komunikasi di Negara Kurang Berkembang (LDC) sebagian besar mengarah pada implementasi, dan terus digunakan, berdasarkan teori kontrol sosial. Masyarakat demokratis yang menikmati penghormatan terhadap kebebasan pers dan peningkatan kualitas hidup bagi penduduknya secara umum. Upaya pengembangan di sebagian besar LDC, termasuk Indonesia, tidak secara proporsional menangani komunikasi tradisional antarpribadi. Upaya-upaya ini tidak memberikan penekanan yang cukup pada faktor manusia, yang, menurut model "penerimaan-aktif", membuat penggunaan pemaksaan listrik menjadi tidak komunikatif dan tidak efektif. Negara dunia ketiga melakukan metode penelitian ini untuk pembangunan di negaranya.
Selanjutnya, model pembangunan apa yang ditinjau kembali untuk model “penerimaan-aktif”? Teori-teori apa saja yang dapat digunakan dalam pembahasan ini?
Dalam pembahasan ini akan digunakan 4 teori antara lain: teori Development, teori Change, teori Information, dan teori Civilization. Teori Development itu sendiri adalah teori pembangunan atau pengembangan dalam rencana. Teori Change adalah teori mengenai adanya perubahan. Dan yang terakhir, Teori Information yaitu hasil proses memperoleh dan mengolah ide.
Yang pertama, teori Development terdapat konsep From Developed Countries, difusi inovasi, social marketing serta participatory, dan ada konsep Less Developing Countries. Penelitian terdahulu tentang pengembangan komunikasi di Negara Kurang Berkembang (LDC) sebagian besar mengarah pada implementasi, dan terus digunakan, berdasarkan teori kontrol sosial. Masyarakat demokratis yang menikmati penghormatan terhadap kebebasan pers dan peningkatan kualitas hidup bagi penduduknya secara umum. Upaya pengembangan di sebagian besar LDC, termasuk Indonesia, tidak secara proporsional menangani komunikasi tradisional antarpribadi. Upaya-upaya ini tidak memberikan penekanan yang cukup pada faktor manusia, yang, menurut model "penerimaan-aktif", membuat penggunaan pemaksaan listrik menjadi tidak komunikatif dan tidak efektif.
Perusahaan multinasional, karena sebagian besar perusahaan multinasional yang terlibat dalam "pemasaran sosial" di Indonesia. sangat sering membawa lebih banyak bobot daripada direktur proyek yang ditunjuk oleh birokrat pemerintah, seperti yang ditunjukkan oleh penolakan oleh pemerintah tentang keprihatinan apa pun yang mungkin dimiliki direktur ini tentang kebutuhan populasi akan teknologi tertentu.
Yang kedua, teori Change terdapat konsep “multiplicity model”, modernization, dependency, konsep Outside (without), dan konsep Inside (within). Hubungan antara perubahan perkembangan dan orang-orang, dan gagasan untuk melepaskan ketergantungan pada Barat dengan mengartikulasikan konsep kemandirian. Yang ketiga, teori Information terdapat dua konsep yaitu, in-formation yang menjelaskan tentang rejection, negotiation, serta domination, dan inform-ation adanya penambahan effect dan juga convergen. Informasi yang berbeda dari informasi yang cenderung memaksakan makna kepada orang lain, adalah pemahaman refleksif diri yang terjadi di dalam penerima individu.  
Kesimpulannya, ada beberapa model konsep yang dapat digunakan dalam pembahasan ini, antara lain yang bersangkutan dengan pembangunan, pemerintah, informasi, dan perubahan. makalah ini berpendapat bahwa, untuk mencapai masyarakat yang demokratis, model "penerimaan-aktif" adalah model yang paling menonjol bagi masyarakat Indonesia saat ini, karena tidak hanya mempromosikan hak warga sipil, ia juga memberdayakan diri mereka sendiri.

Comments